|
 |
|
|
|
|
|
| Tahukah Anda ? |
Beberapa kelompok peneliti menemukan bahwa bubuk cokelat mengandung zat yang dapat mencegah kerusakan gigi.
(Wikipedia Indonesia) |
|
|
 |
|
|
|
 |
|
| Sssttt...
Pria (ternyata) Bisa Kanker Payudara Lho! |
 |
Setelah kemarin
MediaSehat membahas andropause, yaitu menopause
pada kaum pria, kali ini MediaSehat kembali
mencoba mengulik tentang penyakit yang -dalam
pikiran kita selama ini- hanya menimpa kaum
wanita. Kanker Payudara.
Ternyata, walaupun terbilang sangat jarang,
kanker payudara ini juga bisa terjadi pada
kaum pria. Yah, meski tidak berkembang seperti
payudara pada wanita, tetapi kaum pria tetap memiliki
|
jaringan-jaringan yang
sama dengan payudara wanita. Artinya, mereka
pun punya peluang menderita kanker payudara,
walaupun peluangnya tergolong kecil, hanya
satu diantara 100.000 pria. Peluangnya memang
sangat kecil dibandingkan wanita, karena pria
memproduksi lebih sedikit hormon estrogen,
yaitu hormon wanita yang diketahui menjadi
salah satu kontributor terjadinya kanker payudara.
Seperti halnya kaum wanita, resiko terjadinya
kanker payudara juga meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia. Umumnya, kejadian ini terjadi
pada usia 60an dan 70an. Hanya ada sedikit
sekali kasus yang ekstrem dimana kanker payudara
ini terjadi pada pria di bawah usia 35 tahun.
Pada kebanyakan kasus kanker payudara yang
menimpa pria, para pria tersebut akan mengalami
pembesaran payudara yang abnormal. Pembesaran
payudara ini bisa disebabkan karena obat-obatan
atau hormon, bisa juga karena sindrom
Klinefelter, yaitu sindrom kelainan genetika
pada pria di mana salah satu ciri penderitanya
adalah memiliki payudara yang membesar. Kanker
payudara juga bisa disebabkan karena faktor-faktor
lain, seperti akibat terpapar radiasi, meningkatnya
kadar hormon estrogen yang abnormal, atau
juga apabila ada riwayat keluarga sedarah
dengan kanker payudara (baik wanita maupun
pria). Sekitar 20% penderita kanker payudara
pria memiliki keluarga dengan riwayat kanker
payudara.
Gejala-gejala kanker payudara pada pria sama
dengan kanker payudara pada wanita. Payudara
terasa ada benjolan lunak, adanya perubahan
pada puting, ataupun pendarahan pada puting.
Tapi pria sulit melakukan pemeriksaan payudara
mandiri untuk mendeteksi, sebagaimana halnya
wanita. Hal ini karena jaringan payudara pada
pria terlalu sedikit, sehingga sulit untuk
dirasakan perbedaannya. Jadi, saat kanker
tersebut terdeteksi, misalnya ada pendarahan
di puting susu, biasanya sudah sangat terlambat
karena kankernya sudah menyebar ke jaringan-jaringan
di sekelilingnya.
Pemeriksaan kanker payudara pada pria sama
dengan cara pemeriksaan kanker payudara pada
wanita. Pemeriksaan dengan tehnik biopsi,
yaitu dengan mengambil sampel jaringan pada
bagian yang dicurigai terkena kanker, lalu
diperiksa dengan mikroskop di laboratorium
untuk melihat apakah jaringan tersebut terkena
kanker. Apabila positif, maka ditindaklanjuti
dengan pengobatan, baik itu terapi hormon,
radiasi, kemoterapi, sampai dengan operasi.
Yang menarik adalah, penderita pria memberikan
respon yang lebih baik daripada wanita dalam
pengobatan dengan terapi hormon.
Jika penyakit ini ditemukan pada stadium awal,
misalnya benjolan lunak sudah terasa pada
saat pemeriksaan mandiri, maka kesempatan
untuk bisa sembuh sangat besar. Jika penyakit
kanker terdeteksi, pengobatannya sangat tergantung
pada stadium atau tingkat keparahan kanker
tersebut, usia penderita, dan juga kondisi
kesehatannya secara keseluruhan.
| sumber
: |
| 1. |
http://www.mayoclinic.com/health/male-breast-cancer/DS00661/ |
| 2. |
wherehealthbegins
magazine, januari 2003 |
| 3. |
http://www.cancer.org/docroot/cri/content/cri_2_4_2x_what_are_the_risk_factors_for_male_breast_
cancer_28.asp?sitearea=cri |
|
|
|
|
|