homecantik selaluibu dan balitatanaman obatinfo obattipspanduan makanserba-serbi sehat
Artikel Utama
Tren Diet Baru : Clean Eating
dbc network
T i p s
Tips Membuat Ramuan Alami untuk Rambut
Push Up yuk...
Konsultasi
Klik disini untuk konsultasi
Tahukah Anda ?
Beberapa kelompok peneliti menemukan bahwa bubuk cokelat mengandung zat yang dapat mencegah kerusakan gigi.
(Wikipedia Indonesia)
mimbar jum'at
Direktori
Direktori Rumah Sakit
Direktori Dokter
Catatan
Panduan makan
Sehat natural
Persembahan kami
Berlangganan Newsletter
Tuliskan e-mail anda disini :
ANDROPAUSE, MENOPAUSE A LA PRIA
30 Januari 2006
MESKIPUN tidak sama persis, dalam kehidupannya, kaum lelaki juga dapat mengalami suatu gejala yang mirip seperti menopause pada perempuan. Gejala yang disebut andropause itu dipengaruhi oleh proses menua. Andropause adalah sindroma klinik yang ditandai dengan perubahan fisik dan emosional yang dihubungkan dengan menurunnya kadar hormon, seperti hormon pertumbuhan, dan khususnya hormon testosteron dalam konsentrasi yang bermakna. Dengan demikian, fungsi seksual maupun fertilitas (kesuburan) tidak berhenti sama sekali pada laki-laki yang mengalami gejala andropause, namun terjadi penurunan secara bertahap.

Sebenarnya andropause itu hanyalah istilah. Andro berarti laki-laki dan pause berarti berhenti. Apa yang terjadi sebenarnya tidak persis seperti menopause, penghentian fungsi gonad (ovarium/testis). Kalau pada perempuan tidak lagi menstruasi.
Pada laki-laki tidak terjadi penghentian fungsi tersebut, hanya penurunan. Namun dampaknya tak hanya pada fisik dan psikis saja, namun juga pada fungsi seksual laki-laki. Meski demikian, andropause masih bisa diantisipasi untuk meminimalkan keluhannya, terutama sejak usia muda.


Waspadai usia 40 tahun ke atas

Dari penelitian diketahui bahwa gejala andropause mulai dapat terjadi pada laki-laki saat memasuki usia 40 tahun. Penurunan kadar testosteronnya terjadi bertahap, bertahun-tahun, seiring dengan usia yang terus menua. Kadar testosteron yang menurun tersebut menyebabkan kondisi fisik dan performa seksual laki-laki perlahan merosot. Hal itu akhirnya diikuti pula dengan keluhan psikis, meski tidak khas. Gejala fisik, misalnya, mudah letih dan mengantuk berlebihan, rasa sakit atau kaku pada otot, persendian dan tulang, penis mengecil, penurunan tenaga dan kekuatan otot, pertumbuhan janggut dan kumis berkurang, penurunan frekuensi ereksi pagi hari, hingga menurunnya gairah seksual. Akibatnya, laki-laki menjadi mudah marah, depresi, panik, tegang, gelisah, sulit tidur, juga merasa tertekan.

Penelitian terhadap 501 responden laki-laki dari usia 40 tahun ke atas, melalui Aging Males Symptoms (AMS), diketahui 71 persen mengeluhkan gejala andropause, dengan berbagai derajat keparahan. Sementara pada 105 responden laki-laki yang berusia di bawah 40 tahun hanya ditemui gejala andropause sebesar tiga persen dengan derajat ringan. Dari 71 persen yang mengeluhkan gejala andropause, sebanyak duapertiga merasa hal itu masalah. Sedangkan sepertiganya merasa gejala itu bukan masalah dalam hidup mereka. Lagipula, memang, bagi beberapa orang pada usia lanjut, kehidupan seksual tidak lagi terlalu esensial. Oleh karena laki-laki tidak haid seperti perempuan-yang haidnya tiba-tiba berhenti-gejala tersebut kadangkala dianggap biasa seiring dengan proses bertambah tua.

Keluhan gejala andropause tersebut dapat diverifikasi dengan mengukur kadar hormon testosteron dalam darah seorang laki-laki. Jika memang ditemukan terjadi penurunan, kecurigaan terjadinya andropause dapat dikatakan lebih akurat. Akan tetapi, bagaimanapun gejala-gejala andropause tersebut bukanlah gejala yang spesifik. Seorang laki-laki bisa saja mengeluh gejala demikian, namun setelah diperiksa kadar testosteronnya tidak terjadi penurunan. Bisa jadi keluhannya indikasi dari suatu gangguan kesehatan yang lain.

Beberapa peneliti kerapkali lebih cenderung menyebut andropause sebagai Partial Androgen Deficiency in Aging Male (PADAM) atau Androgen Decline in Aging Male (ADAM). Dalam kurun 15 tahun terakhir andropause semakin hangat dibicarakan di dunia kedokteran. Terlebih penduduk berusia lanjut di dunia telah berlipat ganda. Diperkirakan pada tahun 2000-2050 proporsi penduduk yang berusia lebih dari 60 tahun dan 80 tahun akan meningkat masing-masing menjadi dua kali lipat dan empat kali lipat.


Testoteron tertuduh utama

Testoteron yang diproduksi dalam tubuh hanya satu persen dalam plasma yang berbentuk bebas. Sebagian lainnya berikatan kuat dengan protein Sex Hormone Binding Globulin (SHBG). Namun, testosteron baru dapat berfungsi apabila berada dalam bentuk bebas atau berikatan dengan albumin. Testosteron demikian disebut sebagai bioavailable testosterone.

Seiring dengan semakin tuanya seorang lelaki, kadar total testosteron menurun. Suatu penelitian menyebut penurunan kadar total testosteron sebesar 3,2 nanogram/desiliter per tahun setiap individu. Saat berusia sekitar 20 tahun, laki-laki memiliki konsentrasi testosteron tertinggi dalam darah, yaitu 800-1.200 nanogram/desiliter. Konsentrasi itu bertahan sekitar 10-20 tahun saja.

Dengan semakin bertambahnya usia, kadar SHBG di dalam tubuh terus meningkat sehingga penurunan kadar testosteron bebas semakin tajam dibandingkan dengan jumlah totalnya. Pada usia 80 tahun, misalnya, konsentrasi testosteron dalam tubuh menurun menjadi sekitar 60 persen dari jumlah pada saat seorang laki-laki berusia 20-50 tahun.

Faktor-faktor risiko yang bisa memicu derajat keparahan gejala andropause adalah penyakit kardiovaskular dan obesitas. Obesitas dapat menyebabkan penekanan pada jumlah testosteron.


Terapi hormon testosteron

Sejauh ini laki-laki yang mengeluhkan gejala andropause dapat menjalani terapi hormon, yaitu dengan pemberian hormon testosteron. Namun, sebelum memutuskan pemberian terapi hormon, perlu dipastikan pasien tidak mengidap kanker prostat. Meski pemberian hormon testosteron sejauh ini tidak ditemukan dapat mengakibatkan kanker prostat, namun jika sudah mengidap kanker prostat, pemberian hormon dapat memicu pertumbuhan kanker tersebut.

Pemberian terapi hormon dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui suntikan, dengan meminum tablet, implant (susuk), ataupun dengan menggunakan semacam koyo. Terapi tersebut mesti dijalani dalam waktu tertentu, tergantung kondisi setiap individu. Jika kondisi pasien membaik, dosis pemberian hormon dapat dikurangi secara bertahap. Sejauh ini pasien yang menjalani terapi tersebut mengalami perbaikan kondisi yang signifikan. Libido meningkat dan ada penguatan otot.


Adakah cara untuk mengantisipasi keluhan andropause?

Jawabannya ternyata sangat klasik, yaitu sejak muda menjalani hidup sehat dan rutin berolahraga. Gaya hidup sehat dan berolahraga setidaknya bisa meminimalkan gejala andropause, seiring bertambahnya usia. Laki-laki yang rutin berolahraga kadar testosteronnya pada usia tua bisa lebih terjaga. Bahkan, tak ada bedanya seperti laki-laki dengan usia sama yang menjalani terapi hormon.

Meski demikian, banyak yang meyakini bahwa andropause, perlahan tetapi pasti, dengan diferensiasi derajatnya, merupakan keniscayaan bagi lelaki.


Disarikan dari www.kompas.co.id

Artikel lain
Tren Diet Baru : Clean Eating
Penyebab Keputihan dan Bagaimana Mengatasinya
Mood Sering Berubah, Waspadai Gangguan Bipolar
5 Mitos dan Fakta tentang Nasi
Tetap Lezat Tanpa MSG
Tetap Bugar Selama Puasa
Liburan Aktif, Yuk!
Cara Menurunkan Gula Darah
Perkembangan Kecerdasan Emosi Anak
MERAWAT KECANTIKAN ALAMI
Jangan Menyerah Pada Alam!
Jawaban Kuisoner : Jangan Menyerah pada Alam!
Penyakit Turunan Bukan Kutukan
Aduh, pilih yang mana ya ? (Bagian 2)
Aduh, pilih yang mana ya ?
Teliti Dahulu Sebelum Mencium!
Tetap Sehat, Cantik dan Langsing Selama Puasa
Be Vegan for a Better Life
Sssttt... Pria (ternyata) Bisa Kanker Payudara Lho!
Mengenal kanker
Lelah ? Letih ? Capek ? Jangan anggap enteng !
homecantik selaluibu dan balitatanaman obatinfo obattipspanduan makanserba-serbi sehat
Copyright © mediasehat 2006