|
 |
|
|
|
|
|
| Tahukah Anda ? |
Beberapa kelompok peneliti menemukan bahwa bubuk cokelat mengandung zat yang dapat mencegah kerusakan gigi.
(Wikipedia Indonesia) |
|
|
 |
|
|
|
 |
|
| PRIA PUN (HARUS) BISA BER-KB! |
 |
Pil dan suntikan dapat menjadi pilihan ber-KB selain kondom. Untuk menunda dan merencanakan kehamilan Kaum Hawa melakukannya dengan alat-alat kontrasepsi (alkon). Ada beberapa pilihan alkon. Untuk wanita pilihan alkon lebih banyak ketimbang untuk pria. Wanita bisa memilih pil, suntik, susuk, spiral, diagfragma, dan tubektomi. Pilihan pria lebih terbatas, yakni kondom, suntik, pil, dan vasektomi. |
"Selama ini pandangan gender menjadi fokus untuk sasaran penggunaan alkon. Seakan-akan memang perempuanlah yang harus menggunakannya, sedangkan pria tidak. Pandangan ini harus diubah", ujar Senior National AIDS Commission, Dr Nafsiah Mboi di Jakarta, beberapa waktu lalu dalam wacana mengenai HIV/AIDS. Pria, lanjutnya, lebih suka menyarankan pasangannya yang menggunakan alkon daripada diri mereka sendiri.
Pendapat itu disampaikan karena ada paradigma bahwa alkon lebih ditekankan bagi perempuan untuk menunda kehamilan dan juga mencegah terjadinya penularan penyakit menular seksual (PMS). Padahal, seharusnya, kata Nafsiah, pria juga harus ikut berperan.
Saat ini alat kontrasepsi pria yang paling dipercaya adalah kondom. Menurut Food and Drugs Administration (badan yang mengatur makanan dan obat-obatan) AS, jenis alkon ini memiliki kegagalan rata-rata 14 persen dalam kondisi tertentu. Sementara itu, rata-rata tingkat kegagalan pil KB wanita kurang dari satu persen.
Kondom merupakan alkon yang efektif dan murah. Beberapa studi memperlihatkan efektivitasnya dalam mencegah infeksi HIV. Kondom juga membantu menurunkan risiko terjadinya kanker leher rahim pada perempuan. Ada studi yang menemukan virus Human Papillomavirus (HPV) bisa menyebabkan kanker leher rahim pada pria yang tak menggunakan kondom.
Alat Kontrasepsi Pria
Banyak bukti yang mendukung efektivitas kondom dalam menunda kehamilan dan pencegahan penularan PMS. Sayang, di Indonesia penggunaan kondom masih rendah. Menurut hasil survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional-BPS pada 2003, penggunaan kondom pada pasangan usia subur masih sangat rendah, yaitu 0,9 persen. Diperkirakan ada sekitar 7-10 juta pria pelanggan penjaja seks di Indonesia, dan yang mau melindungi diri dari risiko penularan PMS dengan menggunakan kondom pada setiap kegiatan seksnya kurang dari 10 persen.
Vasektomi biasanya akan menjadi pilihan terakhir pria untuk ber-KB. Dengan demikian, rendahnya penggunaan kondom dan pilihan vasektomi memperlihatkan bahwa memang perempuan lah yang menjadi andalan dalam melakukan KB. Sebenarnya ada pilihan lain bagi pria untuk menerapkan alkon. Suntik dan pil bisa menjadi alternatif yang lain. Namun, memang ada sejumlah penelitian untuk mencari pil kontrasepsi pria gagal karena efek samping alkon ini, seperti impoten dan imfertilitas permanen. Vasektomi dapat dipakai, tetapi sulit untuk diganti.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kontrasepsi pria yang dilakukan dengan injeksi dinilai 99 persen efektif. Ini merupakan langkah revolusioner di bidang pembatasan kelahiran. Sebelumnya kontrasepsi pria dikhawatirkan dapat menimbulkan dampak negatif seperti terganggunya frekuensi hubungan seks dan menimbulkan kelainan kulit.
Para ilmuwan Eropa lah yang memulai percobaan penanaman alat kotrasepsi pria. Alkon ini dapat menghalangi produksi sperma dan memiliki efek samping jangka panjang. Jika segala sesuatu berjalan lancar, para peneliti percaya alkon tersebut akan dipasarkan pada 2005.
Perusahaan farmasi Belanda, Organon (pembuat Norplant) memulai percobaan klinis terhadap alkon yang dapat menggantikan kontrasepsi hormonal bagi pria. Kontrasepsi hormonal ini akan menutup testoteron dan produksi sperma dari pria. Alkon itu berupa sebuah tangkai kecil yang ditanam di bawah kulit tangan pasien. Alkon ini akan mengantarkan etonogestrel, yakni progestogen yang biasa ditemukan pada pil KB wanita, untuk menghalangi produksi sperma.
Perusahaan farmasi lain di Eropa juga memroduksi alkon yang dapat menghalangi produksi sperma tanpa efek samping besar. Efek samping yang paling menonjol dari alat kontrasepsi ini adalah meningkatnya berat badan, seperti halnya yang dialami perempuan selama mengonsumsi pil.
Seperti Norplant, alkon hormonal pria tersebut diharapkan dapat bertahan sampai tiga tahun sebelum tangkai baru perlu ditanam kembali. Para ilmuwan Australia yang tergabung dalam Institut Riset ANZAC di Sydney, menyatakan alat kontrasepsi itu 100 persen efektif, karena telah diujicobakan. Metodenya berupa suntikan hormon dan implan di bawah kulit pria yang menghambat produksi sperma dengan suntikan hormon progestin setiap tiga bulan. Hormon itu juga akan mengurangi dorongan seks pria. Dengan begitu libido dapat dikendalikan. Sesudah 12 bulan pemakaian alkon dapat dihentikan untuk memulihkan kesuburan.
Alat Kontrasepsi Tradisional
Menyebut alat kontrasepsi (alkon) orang akan membayangkan kondom, pil, suntik. Itu tidak salah. Ada lagi, yakni operasi vasektomi (pada pria) dan tubektomi (wanita). Di beberapa daerah ada sejenis tanaman yang ternyata mampu digunakan sebagai antifertilitas. Penelitian ini dilakukan oleh Yun Astuti Nugroho dan rekan-rekannya di Center for Research and Development of Pharmacy and Traditional Medicine (NIHRD).
Cara ber-KB tradisional ini bisa dikembangkan dengan memanfaatkan kayu secang (Caesalpinia sappan L) sebagai fitofarmaka. Dari beberapa hasil penelitian didapatkan, tanaman ini dapat dipakai sebagai bahan kontrasepsi pria. Penelitian tersebut memperlihatkan, tanaman tersebut menghambat spermatogenesis dan sistem hormon. Bahan ini juga tidak memperlihatkan efek racum berdasarkan hasil penelitian toksisitas akut pada tikus putih. |
|
|
|
|
|